Selasa, 25 Mei 2010

Zionisme : Gerakan Politik Yahudi

Zionisme merupakan gerakan yang muncul pada abad 19, zaman dimana sedang marak antisemitisme (suatu sikap permusuhan atau prasangka terhadap kaum Yahudi dalam bentuk-bentuk penganiayaan/penyiksaan terhadap agama, etnik, maupun kelompok ras, mulai dari kebencian terhadap individu hingga lembaga) yang mengarah pada pogrom (tindak kekerasan. Zionisme merupakan gerakan politik kaum yahudi untuk kembali ke zion. Gerakan ini diawali dengan periode sejarah yang panjang yaitu sejarah bangsa yahudi (israel) mulai dari pra pembuangan (bait suci pertama), pembuangan pertama (bait suci kedua) yang kemudian memunculkan yudaisme dan pergeseran pemahaman tentang bait suci, kehancuran bait suci kedua hingga muncul dua kelompok dalam bangsa yahudi yaitu kelompok pembunagan (exile) dan perantauan (diaspora). Di titik inilah (diaspora)kita mulai menelusuri zionisme. Pada kelompok perantauan (diaspora) muncul pemahaman religius yang baru seperti pemahaman tentang ketuhanan (Tuhan tidak hanya berada di satu tempat saja, di bait suci), praktek ibadah sabat, dll. hal ini kemudian menjadi identitas baru bagi yudaisme.

Terhadap kaum diaspora ini muncul berbagai macam respon dari kaum yahudi 'asli' diantaranya komitmen religius kelompok yahudi diaspora dipertanyakan (tidak ada bait suci). Terhadap komitmen religius ini kemudian muncul penyengkalan/penolakan terhadap dunia rantau (yahudi diaspora) yang kemudian memunculkan pemahaman yahudi asli/yahudi tulen. Diposisi inilah muncul tokoh (Theodor Herzel) yang gencar menyerukan supaya kaum yahudi kembali pada keasliannya. Disinilah munculnya zionisme (secara pemahaman religius) mulai sangat kentara dan terang-terangan.
disisi lain secara politis zionisme muncul karena adanya diskriminasi terhadap orang-orang yahudi (anti-yudaisme). Bangsa yahudi diakui tetapi hanya sekedar sebagai individu saja sehingga rentan terhadap intimidasi dan diskriminasi. Akibat dari anti-yudaisme ini adalah muncul asimilasi dari kaum yahudi sendiri dengan harapan mereka tetap bertahan tetapi disisi lain juga muncul antisemitisme (bangsa yahudi tetap dianggap asing walaupun telah terjadi asimilasi). dengan keadaan seperti inilah zionisme muncul sebagai gerakan untuk memperoleh pengakuan yahudi sebagai bangsa.

wacana yang muncul akibat zionisme ini adalah adanya wacana teritorial yaitu wacana pusat dan pinggiran. pusat berarti suci, kekal, otentik dan merdeka. Sedangkan pinggiran hanyalah buangan, homeless, kaum terhukum (pinggiran adalah lokasi penghukuman), temporal, nomaden, tak berharkat, tak berakar, hibrid, terdiskriminasi. Untuk menjadi yahudi asli, kaum yahudi harus kembali pada 'pusatnya'. Peristiwa holocaust dijadikan legitimasi kaum yahudi 'asli' untuk menarik kaum yahudi diaspora untuk kembali ke pusat. Holocaust menunjukan bahwa bangsa yahudi tidak diterima di dunia barat (bangsa yahudi dianggap bangsa yang lemah dan ini tidak cocok dengan paham zionisme).
wacana pusat-pinggiran ini pun tak luput dari kritik Zender Gilman. Menurut Gilman wacana tepian/perbatasn ini justru menempatkan pada kondisi multikulturalisme (bisa berelasi dengan bangsa lain). Di dalam kondisi tepian ini justru orang-orang yahudi lebih mendominasi/berpengaruh. Pengalaman rantau justru dapat menjadi pengalaman kreatifitas (bdk. amerika serikat atau "golden age" spanyol islam abad pertengahan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar